August 20, 2010

Berita yang menyenangkan

Filed under: Berita

Ternyata setelah beberapa lama vakum, termasuk blog ini, muncul sebuah berita yang membahagiakan. Jadi ceritanya seperti ini….

Pada suatu hari, saya menerima sebuah surat dari seseorang di chanel youtube saya. Begini bunyinya.

Dear SicSid6

Nama Saya Nanang Putra, saya bersekolah di Academy of Art University di San Francisco. Saya sangat terkesan dengan film pendek "menunggu jodoh". Kebetulan saya ada tugas untuk kelas Directing (penyutradaraan) apa bila si izinkan saya ingin membuat ulang film pendek "menunggu jodoh" untuk tugas kelas saya tersebut.
nanti saya akan berikan kredit untuk kamu di dalam versi barunya.
please reply as soon as possible karena saya akan memproduksinya jumat besok (waktu San Francisco)

terimakasih

Dan saya menjawab… Oke. Dan entah saya menunggu atau tidak, yang jelas saya lupa apa yang telah terjadi, hingga suatu hari…muncullah


Ternyata sudah jadi. Dan sesuai janji, nama saya ada di credit title. Nice. Ini sangat membanggakan buat saya. Btw, buat pembandingnya… ini versi originalnya yang dulu pernah saya buat bersama teman2 Saraf.


Silahkan komennya …..thanks

February 25, 2009

So Long My Friend

Filed under: Whatevah

Gw bukan apa - apa waktu pertama kali menyentuh jogja. Bahkan sebelum itu, aku merasa kalo aku bukan siapa - siapa. Hingga kau datang.

Kau bisa mengangkatku. Di balik tubuhmu yang besar, aku mencoba untuk berlindung. Namun tanpa sepengetahuanku, ternyata engkaulah yang berlindung di balik tubuh kecilku ini. Bersama dengan waktu, persahabatan kita berubah menjadi sebuah persaudaraan. Dan bersamanya juga telah terikat sebuah tali batin yang kuat. Mungkin kita jauh namun khabar itu datang padaku dengan hentakan yang kuat. Mengetuk bahkan mendobrak batinku, hingga air mata tak mampu kubendung. Kilas balik perjalanan kita terkupas dalam ingatanku. Saat itu aku baru menyadari kalau aku sangat merindukanmu. 

Selamat jalan kawanku……Thanks for the Strength you gave me……

(For My Best Friend, Leo Agung Yulian 1981 - 2009) 

January 16, 2009

HITAM #2: Korban

     Lantai rumah telah ternoda oleh darah segar saat aku datang ke ruangan itu. Seorang pria yang terikat di kursi mengalami luka yang amat serius. Di depannya hadir seorang pria lagi, dengan rautwajah beringas menggenggam sebuah besi yang berlumuran darah. Untaian kata kebencian keluar dari mulut pria itu saat aku menunggu dengan jam kunoku di tangan. Memang sungguh menyakitkan sebuah kematian yang perlahan. Tapi aku tidak memperdulikan apa yang terjadi di depan mataku. Tugasku hanya mencabut dan memastikan seseorang telah terhapus dari buku kehidupan.

      Pria berwajah bengis itu kembali mengayunkan besi itu ke tubuh korbannya. Dan kini tampak sang korban sudah tidak tahan lagi dengan siksaan yang diterimanya. Satu tebasan lagi telah siap diarahkan kearah pria yang terikat tersebut. Aku pun mulai melangkahkan kakiku menuju korbanku. Ketepatan waktu sudah menjadi bagian dari pekerjaanku. Aku pun membuka kaos tangan dan menepuk pundak korbanku. Di saat itu juga, sebuah peluru berdesing menembus tubuh sang pria.  Tugasku sudah selesai. Aku melangkah keluar melewati kerumunan orang yang bergegas membebaskan pria yang terikat tadi. Bersimbah darah, pria gila yang menyiksa korbannya itu telah tewas.

     Sebuah kejadian yang menakjubkan. Kadang yang kuat tidak selamanya menang. Tapi apa artinya menang dan kalah, saat semuanya dihadapkan dengan masalah hidup dan mati.

January 13, 2009

HITAM #1 :Tragedi di sebuah malam

    Malam ini tidak terasa seperti malam – malam yang lain. Ada suatu hal yang membuat dadaku terasa sesak entah kenapa. Namun aku mencoba mengesampingkan perasaan ini dan terus berjalan menuju tempat korbanku. Di sebuah rumah sederhana yang jauh dari perkotaan, seorang lelaki tengah duduk dengan kecemasan di berandanya. Aku mengabaikan dirinya yang tampak sesekali memejamkan matanya dan berharap. Dan kini aku pun sudah berada di dalam sebuah kamar di rumah kecil itu.

    Tampak seorang wanita berpeluh yang dikelilingi beberapa wanita lagi yang lebih tua dari dia. Diantara mereka ada seorang wanita berjubah putih yang aku kenal. Dia menatapku dengan wajah sedih seolah menanyakan mengapa aku hadir di sini. Namun aku mengalihkan pandanganku menunjukkan keinginan diriku yang tidak ingin memulai pembicaraan dengannya. Aku pun mengeluarkan sebuah kalung dengan sebuah jam kuno dari saku saat wanita berpeluh tadi mulai mengerang. Dengan wajah dingin aku memperhatikan jarum terkecil yang terus melaju di jam kuno itu. Setelah itu aku dan wanita berjubah putih itu mendekat dalam waktu hampir bersamaan. Matanya berurai air mata saat dia mengulurkan tangannya yang berselimut cahaya putih. Dan saat itu juga aku mengulurkan tanganku ke arah dahi sang wanita yang mengerang dengan hebat.

     Selanjutnya aku sudah berada di luar rumah. Lelaki yang tadi sedang duduk di beranda kini ditemui oleh salah seorang wanita di dalam rumah. Aku hanya melihat dari jauh saat bayi yang digendong oleh wanita itu diserahkan. Disertai sebuah ucapan dari bibir si wanita penggendong bayi, lelaki itu lalu bersimpung dengan kesedihan yang amat sangat. Tanpa kusadari wanita berjubah putih tadi sudah ada disebelahku. Dengan air mata membasahi matanya, ia mencoba menyentuhku namun aku berlalu meninggalkannya.

 

Tugasku sudah selesai. Dan kini aku mengerti kenapa dadaku terasa sesak malam ini. Aku tidak mau berdebat dengan takdir untuk masalah ini. Aku hanya menjalankan peranku dalam roda kehidupan. Dan aku yakin bahwa takdir tidak kejam. Karena pasti ada misteri lain yang dia siapkan bagi manusia dalam memilih jalan hidupnya.

HITAM : “Prologue”

Kisahku sudah ada  bahkan sebelum manusia pertama dilahirkan.

Dikenal dengan berbagai nama di berbagai tempat.

Menorehkan duka kepada mereka dengan takdirku.

Karena aku ada untuk meniadakan.

 

Aku adalah sang pencabut nyawa.

Tapi kalian dapat memanggilku HITAM.

Dan ini adalah diaryku.

 

”HITAM”

Created by : L. Ibenzani
Written by : Hiram Sidharta (that’s my real name)

January 11, 2009

In Candid

Filed under: Sid punya Cerita
    Tiga orang wanita cantik duduk di sebuah sofa yang menjadi sebuah lokasi pemotretan. Mereka bercanda riang dengan tetap mempertahankan keanggunan mereka sementara Arya tetap berkosentrasi mengabadikan mereka frame demi frame dengan kameranya. Tak banyak arahan gaya yang keluar dari mulut Arya. Alasannya, ia ingin menangkap ekspresi yang natural dari model – modelnya. Namun tidak tampak kepuasan di wajah Arya. Ia masih menganggap ekspresi yang diberikan oleh para modelnya tetaplah tidak natural karena mereka sadar kehadiran sebuah kamera yang akan menangkap ekspresi mereka. Namun pemotretan harus tetap berlangsung meskipun gundah tetap bersandar di dalam jiwa seni Arya.
 
    Akhirnya pemotretan diakhiri lebih cepat dari yang dijadwalkan. Arya langsung membereskan peralatannya. Ia tidak sempat beramah tamah dengan para modelnya karena pikirannya masih bertualang mencari naturalisme kecantikan seorang wanita. Dengan kamera dan lensanya yang terbungkus rapi dalam tasnya, ia pun berlalu meninggalkan studio.
 
    Sebelum pulang ke apartemennya, ia menyempatkan diri untuk duduk di taman kota. Dengan sebatang rokok menempel di bibir, matanya bertualang memperhatikan setiap hal yang terjadi di sekitarnya. Tiba – tiba, pandangannya terhenti pada seorang sosok wanita anggun yang melintas agak jauh dari tempatnya berada. Dengan insting fotografernya, ia pun segera mengeluarkan kameranya untuk mengabadikan kecantikan wanita tersebut. Secara sembunyi – sembunyi ia mengambil gambar wanita tersebut. Sangat cantik dan natural. Kepuasaan pun tampak di wajah Arya saat dia mengintip dari balik kameranya.
 
      Tak lama berselang, wanita itu ditemui seorang pria tampan yang sepadan dengan kecantikannya. Mereka berdua adalah mantan model. Arya merasakan hal itu. Namun apa yang membuat Arya murung adalah saat dua insan tadi tampak sangat mesra. Kegeraman Arya pun bertambah saat kemesraan itu berlanjut dengan mereka menggegam tangan dengan mesra saat masuk ke dalam mobil dan pergi entah kemana.
 
    Kini Arya telah sampai di apartemennya. Wajah kesal dan lemas tergurat di wajahnya. Ia hanya duduk terdiam di ruang tamu dengan kameranya tergeletak di meja. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan saat seorang wanita masuk ke dalam apartemen. Arya tetap terdiam saat wanita itu menanyakan kegiatannya hari ini. Ia hanya mengepalkan tangannya saat wanita tadi terdiam karena Arya tidak menjawab. Dan setelah Arya menoleh, ia pun memandang wanita itu dengan tampang kesal. Tampak wajah bingung dari wanita yang merupakan istrinya itu. Istri Arya yang adalah wanita yang tadi dilihatnya berselingkuh dengan pria lain sore tadi di taman kota.
 
        Suasana hening bergema sejenak sampai Arya mengenggam tali kameranya dan…..Brakkk.
January 9, 2009

Trauma

Filed under: Sid punya Cerita

Peristiwa itu akan membekas di benakku……

Tidak ada satu orang pun yang mau menjadi diriku saat itu. Keringat dingin yang mengalir di tubuhku. Himpitan dan rasa sakit di di dubur. Aku benci semua orang. Mereka menatapku…seolah aku adalah seekor binatang yang hina. Aku tak mengeluh. Hanya menundukkan kepalaku…..sedih bagai tak punya orang yang dapat melindungiku. Andai saja aku lebih dewasa saat itu. Akan kubunuh mereka semua yang tertawa di depan dan belakangku.

Kini aku telah dewasa. Dan bila hal itu terulang lagi, aku akan mencari segala cara agar peristiwa itu tidak terjadi lagi padaku. Dan aku bersumpah bahwa aku “Tidak akan berak di celana lagi”

January 5, 2009

Youtube and me

Filed under: Berita

At last….gw telah mengupload beberapa video baru yang merupakan video lama dari tugas - tugas gw dulu pas kuliah. Yang baru - baru menyusul. Terutama dalam rangka tugas membuat video lucu untuk “Flyfest ver 2.0 — Karas Rock Wowowow”. Btw, menggiatkan upload video hasil karya sendiri ke youtube ini juga dalam rangka ingin menjadi “Youtube Hero”. Bagaimana Youtube Hero itu…..nanti kalo gw lagi ga sakit kepala gw tulis.

Oh iya…ini link youtube gw http://www.youtube.com/user/SicSid6

October 31, 2008

I’m Back

Filed under: Whatevah

Finally Reunited….

Setelah lama ditinggal anak istri…sekarang gw udah bersatu lagi. Semangat baru, sikap baru, kegilaan yang lama…hehehehe. Udah lama banget ga ada berita yang tersiar tentang gw. Itu karena selama ini gue berada di dalam gua (gue dalam gua….get it). Well….ini postingan sebagai pembukaan. Tunggu aja berita - berita dan keisengan - keisengan gw selanjutnya. PEACE

April 23, 2008

SARAF First Strike

Filed under: Berita

Photobucket

We’re Back……………..

Setelah pernah ditampilkan di Stasiun TV Lokal Bandung dalam sebuah acara bernama “Take Three”, kini film pendek hasil garapan anak - anak SARAF (Satuan Rakyat Film) yang berjudul “Menunggu Jodoh” kembali berprestasi dalam sebuah acara bernama Mankom Movie Award yang diadakan oleh Jurusan Manajemen Komunikasi Unisba (lokal lagi).

In the end, film pendek yang bisa disaksikan juga di blog ini berhasil menyabet 5 penghargaan dalam beberapa nominasi, yaitu :

1. Pemeran Pembantu Terbaik (Fatima Adila)
2. Editing Terbaik (Deo, Hizkia, Sid, Tajir)
3. Ide Cerita Terbaik (Okke “Sepatu Merah)
4. Sutradara Terbaik (Hizkia)
5. Film Terbaik (Secara Eug gitu loch Producernya)

(fuh…great job guys)

Jadi begitu ceritanya…semoga saja keberhasilan ini dapat membuat SARAF (UKM Film Underground ITHB) semakin maju dan selalu termotivasi dalam belajar dan menghasilkan karya - karya yang lebih baik lagi. Amin.

Dan buat anak - anak SARAF,

“It’s been a great year. Let’s do it again and again and never give up”

Love u Guys

Older Posts