Sudah sebulan setengah ranjang ini tak disinggahi cinta. Hanya aku, rasa lelah, dan hantu – hantu masa depan yang menyesakkan, hingga aku sering kembali terjaga. Bila hal itu sudah terjadi, menghisap sebatang rokok adalah sebuah kewajiban bagiku. Sambil menerawang kosong ke setiap sudut ruangan, membiarkan nikotin dan segala racun dari rokok yang kuhisap membiusku untuk kembali ke fase relax.
Tak terasa sudah setengah jam berlalu. Asbak di sebelahku pun telah setengah penuh. Masih juga belum kutemukan alasan untuk tidur pulas. Bahkan ketakutanku kini bertambah dengan habisnya stok anti depresan batanganku. “Mau beli dimana, udah malem banget gini?” tanyaku dalam hati.
Akhirnya aku pun mulai mencari cara agar bisa tertidur kembali. Kurapikan ranjang reot ini, menepuk – nepuk bantalku dan tidak lupa, memasang lagu – lagu cinta dengan irama mengalun. Dengan menghela nafas dalam, aku pun mencoba memejamkan mata. Kunikmati setiap melodi dan lirik dari headphone di telinga, membiarkannya membawaku kealam mimpi.
“Indahnya dunia ini bila penuh kedamaian, ” pikirku sambil berdendang bisu dalam benak.
Semakin lama anganku terbawa jauh kealam baru dengan kenangan indah sebagai drama utamanya. Kunikmati perasaan itu hingga akhirnya…….
SESAK…!!!!.
“Kenapa jadi seperti ini?” keningku sedikit mengkerut dengan mata tetap terpejam.
“Kenapa keindahan ini justru menyesakkanku?”
“Rasa sesaknya dua kali lipat dari pikiranku tentang apa dan kapan aku akan menjadi.”
“Lepaskan keindahan ini !!”
Akupun kembali terjaga. Namun kini dengan nafas sedikit terengah karena sumpek yang memenuhi dadaku. Kumatikan musik yang seharusnya membuatku terlelap dan tanganku tanpa sadar menyambar bungkus rokok yang berada tidak jauh dari tempat tidurku.
"HABIS…??? Damn !!!”, teriakku dengan sunyi.
Butiran keringat mulai keluar dari balik pori – pori. Rasa panik ini membuatku berfikir lebih keras akan solusi insomniaku. Kulirik kembali asbak yang tadi telah kusingkirkan. Kuteliti setiap puntung yang bertumpuk hingga kutemukan satu yang lumayan panjang. Hanya untuk 4 sampai 5 kali hisapan, tapi itu lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Pendek puntung tersebut membuat wajahku terasa panas ketika aku menyulutnya. Kunikmati setiap hembusan dengan hati – hati sambil berfikir,
“ Bila puntung ini habis, lalu apa ??? “
“Damn…!!!”