February 20, 2008

Menjadi Harapan

Filed under: Whatevah

It’s a great day. Beberapa bulan setelah aku lulus.

Kini aku dikembalikan pada realita bahwa manusia harus selalu menghadapi masalah.

Aku baru saja pulang dari kampus yang kini sudah tidak lagi menjadikan aku salah satu masalahnya. Ya….aku sudah tidak menjadi beban lagi bagi mereka. Tapi harapan. Mereka menaruh harapan besar pada diriku untuk mengharumkan almamater. Berbekal ilmu yang mereka berikan, aku harus mampu menunjukan bahwa mereka berhasil mencetak lulusan yang berguna bagi masyarakat. Seorang Harapan Bangsa.

Kini aku telah kembali pada keluarga yang telah membesarkanku. Rasa bangga mereka simpan atas nama baruku, foto yang mencitrakan kesuksesan dan hilangnya tanggungan akan biaya pendidikan formal atas diriku.  Sebagai anak tertua yang harus meneruskan kesuksesan jerih payah orang tuaku, lagi – lagi aku harus menjadi harapan. Aku pun kembali diarahkan seperti saat aku kecil dulu. Langkah yang harus aku lakukan demi mencapai cita – citaku dan bagaimana menghadapi dunia. Pembicaraan kami sangat demokratis dan diplomatis. Hanya saja, masih banyak kesalahanku di mata mereka karena pola pikirku yang berbeda. Tapi….namanya juga orang tua, mereka pasti menginginkan dan tahu yang terbaik buat anaknya.

Tak terasa, waktu sudah sangat malam. Waktunya bagi anak dan istriku yang jauh di bawah atap lain tidur. Sebelum terlelap, kusempatkan diriku menelfon mereka, sekedar untuk mengucapkan selamat tidur sebagai salah satu bentuk kecintaanku kepada mereka. Setelah menunggu nada dering berhenti bernyanyi, aku pun berbicara pada istriku. Sangat romantis saat ia menyatakan keinginannya untuk sebuah keluarga yang harmonis dengan rumah sendiri, beberapa peralatan rumah tangga dan sekolah yang terbaik untuk anak. Aku menyadari bahwa mereka sangat menaruh harapan pada diriku sebagai seorang kepala keluarga. Aku pun mengerti. Bagiku itu sudahlah sebuah keharusan untuk memberikan yang terbaik bagi keluargaku.

Setelah selesai meluapkan rasa rinduku melalui telepon seluler, aku kembali duduk terdiam. Penat…lelah…dan kantuk terasa di setiap sendi tubuhku. Waktunya istirahat. Dan sebelum aku memejamkan mata dan memanjakan keinginan tubuhku, aku pun berkata lantang di dalam hati.

 ” AKU BENCI MENJADI HARAPAN ”

4 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://sicsid.blogsome.com/2008/02/20/menjadi-harapan/trackback/

  1. menjadi harapan memang membuat beban..seperti gue sekarang..anak tunggal..orang tua sudah tidak ada pekerjaan pasti..kuliah sudah mengulang setahun..setiap pulang kerumah di tangerang mama selalu bilang, “tenang, anakku pasti akan membeli rumah yang bagus buat mama papanya”, sembari gue melihat atap rumah gue yg bocor karena hujan yg deras waktu itu.remang-remang dan sepi..tak ada tv maupun radio…setiap gue mulai merasa bosan dan malas kuliah selalu hal itu yg gue ingat..kembali bangkit dan terus berusaha menjalani kehidupan sebagai mahasiswa dan seorang anak yg orang tuanya sudah sangat terseok-seok dalam hal ekonomi…
    halah kok gue jadi ikutan curhat….
    menjadi harapan banyak orang adalah sebuah beban, beban yg berat, tapi sebuah harapan akan ditumpukan kepada orang yg dapat dipercaya dan dianggap mampu dilingkungannya. Tidak semua orang ditumpukan sebuah harapan. Hanya orang terbaiklah yang membuat orang akan menaruh harapannya..kita…
    gue berharap gue bisa menjadi orang terbaik di dalam lingk gue..menjadi….harapan…

    Comment by itemz — February 25, 2008 @ 6:50 pm

  2. Sedih banget cerita loe. Jadi nangis gw. Tapi thanks berat, karena dengan comment loe, gw bisa bangkit lagi dan ingin kembali berusaha untuk meraih yang terbaik demi harapan yang dititipkan oleh orang yang menyayangi gw. Untuk istri dan anakku….I live and die for u. TCAAAHHHHHH !!!!

    Comment by Sic Sid — February 26, 2008 @ 1:06 am

  3. Harapan..? Kata ini selalu menghantui aku semenjak orang tua aku tidak bisa membiayai aku sekolah terutama setelah aku duduk di bangku kuliah.. Tanpa ambil pusing aku memutuskan untuk kuliah sambil kerja walaupun sampai saat ini aku benar2 jatuh kejurang yang dalam di dunia pekerjaan sehingga aku susah sekali untuk kembali ke bangku kuliah. Karena aku sendiri sudah punya banyak tanggung jawab dan itu semua harus aku selesaikan satu persatu… Kalau diceritakan semua mungkin selama 2 minggu aku ketik tulisan ini gak akan beres-beres. Intinya selama kalian atau anda2 semua memiliki kemampuan baik itu lahir maupun batin… Bersyukurlah dan jangan menyerah karena semua itu ada jalan keluarnya.. Makanya kalau orang tua kita masih mampu untuk biayain kita untuk sekolah ya pakailah kesempatan itu sebaik-baiknya.. dan Yang sudah lulus cepat2lah kalian mencari kerja dan jangan malu bertanya dengan teman atau kenalan dengan orang2 baru di dunia kerja kalian.. Sayang banget kalian sudah susah2 kuliah lulus dan mendapat ijazah tapi kalian masih menganggur… Kenapa aku menulis seperti ini karena aku sendiri tidak ingin melihat teman-teman aku atau orang lain tidak punya harapan dan tidak bisa diharapkan…
    Maju Terus Pantang Mundur… Selama Tamara menjadi Janda jangan emnyerah dan tetap berusaha… Hahahahaha…. Selamat menikmati hidup teman-teman jadilah harapan bagi siapapun yang membutuhkan kalian. Terutama orang tua kalian yang sudah membesarkan dan memdidik kalian.. Amin

    Comment by iiL — April 20, 2008 @ 4:11 pm

  4. wuih….jadi curhat semua nich……MANTAP…..sebagai tetap mempertahankan libido untuk mewujudkan harapan, jangan lupa untuk tetap tersenyum apapun yang terjadi.

    Comment by Sic Sid — April 22, 2008 @ 4:46 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.