Indah tinggal di sebuah desa kecil. Ibunya telah meninggal dan Ayahnya adalah seorang petani. Memang meninggalnya ibu bukanlah salah dia atau ayahnya. Ibu meninggal karena penyakit yang dideritanya tak dapat diatasi secara biaya. Ia memang tidak ingat kejadiannya karena saat itu Indah masih bayi. Satu - satunya pengingat akan kasih sayang ibunya adalah liontin yang selalu ia bawa kemana - mana . Di dalamnya tersimpan dua buah foto wajah orang tua Indah. Ayahnya di sisi kiri dan ibu di bagian kanannya. Liontin ini juga sudah seperti sebuah jimat yang membuatnya tetap tegar menghadapi masalah seperti kemarau panjang yang sedang melanda desa tersebut. Di saat seperti ini, warga desa banyak yang berdoa dan melakukan ritual untuk memohon hujan kepada Yang Kuasa.
Pada suatu hari, Indah bertanya kepada Ayahnya tentang dimana ibunya kini berada. Satu - satunya petunjuk dari Ayahnya adalah bahwa ibunya kini ada di balik pelangi. Jawaban itu menjadi cukup relevan baginya yang masih kecil. Namun, bagaimana mencari pelangi di musim kemarau ini ? Hal inilah yang menjadi awal dari petualangan Indah. Hanya dengan berbekal liontin milik ibunya ia pun berjalan mencari pelangi dimana ibunya berada.
Dimulai dari pekarangan rumahnya, ia berjalan ke arah bukit tempat dimana ia biasa bermain. Di sana tumbuh sebuah pohon besar diantara padang rumput yang kini berwarna kecoklatan. Sesampainya di bawah pohon tersebut, ia terduduk dan memandang ke arah langit dimana terik matahari menyilaukan matanya. Tanpa disadarinya, seorang kakek tua sudah berada di sebelahnya dan bertanya apa yang sedang dilakukan seorang gadis kecil di tempat ini sendirian. Ia pun menjawab bahwa sedang mencari ibunya di ujung pelangi. Lelaki tua itu pun tertawa kecil karena keluguan gadis kecil itu. Ia bertanya balik tentang bagaimana mencari pelangi di musim kemarau seperti ini. Indah pun mengggaruk kepalanya setengah kebingungan. Di saat itu juga, lelaki tua tadi memberi saran padanya untuk menemui dewi air yang menghuni sungai dekat hutan karena mungkin sang dewi dapat membantunya. Indah pun mulai mengikuti saran kakek tua yang tidak dikenalnya itu dan berjalan menuruni bukit menuju tempat yang ditunjuk.
Sesampainya di sana ia bingung karena tidak menemui siapa - siapa, apalagi sang dewi air. Sambil menunggu ia memainkan tangannya di sungai sambil berjongkok. Kembali tanpa ia sadari, seorang wanita cantik telah berdiri disampingnya dengan cahaya indah yang menyegarkan. Sosok tadi yang ternyata adalah sang dewi air menanyakan alasan kemurungan gadis kecil itu. Indah pun menerangkan alasan kenapa ia bisa sampai disitu dan sang dewi pun mengerti. Sang dewi menengadahkan tangannya dan tiba - tiba sebuah gelas bening besar yang menyerupai cawan itu muncul. Di dalamnya terdapat air terjernih yang pernah Indah lihat. Gelas itu pun diberikan oleh sang dewi kepada Indah dengan pesan untuk mengantarkannya kepada dewa langit yang berada di atas bukit tempat ia berada tadi. Indah pun melaksanakan perintah sang dewi dan segera kembali kesana. Sesampainya di sana, ia sudah tidak menemukan kakek tua tadi. Dengan sangat hati - hati Indah melewati padang rumput untuk menuju pohon besar yang ada di tengahnya. Namun tanpa disangka langkah kecilnya terganjal oleh sebuah batu yang kebetulan berada di balik rerumputan. Gelas tersebut terlempar jatuh dan pecah. Indah menjadi sedih dan bingung karena kini ia tidak akan bisa melihat pelangi. Ia pun duduk di bawah pohon sambil menangis. Kini harapannya untuk mengejar pelangi dan bertemu ibunya telah musnah.
Tanpa disadari, air matanya menetes dan jatuh ke bumi. Di saat itu juga, kakek tua tadi muncul kembali. Dia pun berkata akan mengabulkan keinginan Indah dengan pesan bahwa tidak ada air semurni air mata dari harapan seorang anak. Setelah perkataan itu, tiba - tiba hujan pun turun. Masyarakat di desa berbahagia karena kini sawahnya bisa terairi lagi. Mereka merasa puas dengan permohonan dan ritual yang mereka panjatkan kepada sang dewa.
Sementara itu, dibawah pohon Indah masih menunggu hujan dan berharap pelangi itu akan muncul. Dan hujan pun berhenti. Indah memberanikan diri untuk keluar dari lindungan pohon tersebut dan mencari pelangi yang telah ditunggunya namun ia tidak menemukannya. Tanpa disadari ternyata ia berada di bawah pelangi itu. Namun karena begitu besarnya maka ia tidak dapat melihatnya. Untung saja ada kakek tua tadi yang ternyata sang dewa langit. Ia bertanya kembali kepada Indah kenapa ia masih tampak bersedih. Indah pun menerangkan kepada sang dewa betapa ia ingin bertemu ibunya. Sang dewa pun menunjuk ke arah sebuah kubangan air dan Indah melihat apa yang ada di kubangan tersebut. Ternyata hanya ada wajah dirinya sendiri. Di belakangnya sang dewa berkata bahwa ia tidak perlu mencari ibunya jauh - jauh karena sejak ia lahir, ibunya sudah menjadi bagian dari dirinya. Indah pun mengerti karena dia ingat wajah ibunya yang memang mirip dengan dirinya. Ia kini cukup senang. Sambil masih melihat ke arah air ia lalu bertanya dimana pelangi yang dicarinya namun sang dewa langit telah tiada. Ia pun menjadi sedikit bingung.
Akhirnya Indah pun kembali ke rumahnya. Tanpa disadari, dialah pelangi itu. Sebuah keindahan dibalik kesedihan.
(Cerita ini kupersembahkan kepada (alm) ibuku yang telah memberikan banyak cinta dan cerita kepadaku…..hiks….i miss u so much)