Tiga orang wanita cantik duduk di sebuah sofa yang menjadi sebuah lokasi pemotretan. Mereka bercanda riang dengan tetap mempertahankan keanggunan mereka sementara Arya tetap berkosentrasi mengabadikan mereka frame demi frame dengan kameranya. Tak banyak arahan gaya yang keluar dari mulut Arya. Alasannya, ia ingin menangkap ekspresi yang natural dari model – modelnya. Namun tidak tampak kepuasan di wajah Arya. Ia masih menganggap ekspresi yang diberikan oleh para modelnya tetaplah tidak natural karena mereka sadar kehadiran sebuah kamera yang akan menangkap ekspresi mereka. Namun pemotretan harus tetap berlangsung meskipun gundah tetap bersandar di dalam jiwa seni Arya.
Akhirnya pemotretan diakhiri lebih cepat dari yang dijadwalkan. Arya langsung membereskan peralatannya. Ia tidak sempat beramah tamah dengan para modelnya karena pikirannya masih bertualang mencari naturalisme kecantikan seorang wanita. Dengan kamera dan lensanya yang terbungkus rapi dalam tasnya, ia pun berlalu meninggalkan studio.
Sebelum pulang ke apartemennya, ia menyempatkan diri untuk duduk di taman kota. Dengan sebatang rokok menempel di bibir, matanya bertualang memperhatikan setiap hal yang terjadi di sekitarnya. Tiba – tiba, pandangannya terhenti pada seorang sosok wanita anggun yang melintas agak jauh dari tempatnya berada. Dengan insting fotografernya, ia pun segera mengeluarkan kameranya untuk mengabadikan kecantikan wanita tersebut. Secara sembunyi – sembunyi ia mengambil gambar wanita tersebut. Sangat cantik dan natural. Kepuasaan pun tampak di wajah Arya saat dia mengintip dari balik kameranya.
Tak lama berselang, wanita itu ditemui seorang pria tampan yang sepadan dengan kecantikannya. Mereka berdua adalah mantan model. Arya merasakan hal itu. Namun apa yang membuat Arya murung adalah saat dua insan tadi tampak sangat mesra. Kegeraman Arya pun bertambah saat kemesraan itu berlanjut dengan mereka menggegam tangan dengan mesra saat masuk ke dalam mobil dan pergi entah kemana.
Kini Arya telah sampai di apartemennya. Wajah kesal dan lemas tergurat di wajahnya. Ia hanya duduk terdiam di ruang tamu dengan kameranya tergeletak di meja. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan saat seorang wanita masuk ke dalam apartemen. Arya tetap terdiam saat wanita itu menanyakan kegiatannya hari ini. Ia hanya mengepalkan tangannya saat wanita tadi terdiam karena Arya tidak menjawab. Dan setelah Arya menoleh, ia pun memandang wanita itu dengan tampang kesal. Tampak wajah bingung dari wanita yang merupakan istrinya itu. Istri Arya yang adalah wanita yang tadi dilihatnya berselingkuh dengan pria lain sore tadi di taman kota.
Suasana hening bergema sejenak sampai Arya mengenggam tali kameranya dan…..Brakkk.
twisted-nya ok. walaupun mungkin terlalu fiktif, dalam arti, obsesesi dan stress-nya seorang fotografer untuk menemukan frame yang menangkap kecantikan wanita, sampai lupa wajah istrinya sendiri sepertinya kurang real. Tapi terlepas dari itu, endingnya cukup mengejutkan. well done dude.
Comment by rizalrenaldi — January 13, 2009 @ 11:34 pm
ow…oke. Gw pikirikan lagi scene itu. Soalnya mau dibikin film pendek. Any ideas ?
Comment by Sic Sid — January 14, 2009 @ 8:41 pm