Malam ini tidak terasa seperti malam – malam yang lain. Ada suatu hal yang membuat dadaku terasa sesak entah kenapa. Namun aku mencoba mengesampingkan perasaan ini dan terus berjalan menuju tempat korbanku. Di sebuah rumah sederhana yang jauh dari perkotaan, seorang lelaki tengah duduk dengan kecemasan di berandanya. Aku mengabaikan dirinya yang tampak sesekali memejamkan matanya dan berharap. Dan kini aku pun sudah berada di dalam sebuah kamar di rumah kecil itu.
Tampak seorang wanita berpeluh yang dikelilingi beberapa wanita lagi yang lebih tua dari dia. Diantara mereka ada seorang wanita berjubah putih yang aku kenal. Dia menatapku dengan wajah sedih seolah menanyakan mengapa aku hadir di sini. Namun aku mengalihkan pandanganku menunjukkan keinginan diriku yang tidak ingin memulai pembicaraan dengannya. Aku pun mengeluarkan sebuah kalung dengan sebuah jam kuno dari saku saat wanita berpeluh tadi mulai mengerang. Dengan wajah dingin aku memperhatikan jarum terkecil yang terus melaju di jam kuno itu. Setelah itu aku dan wanita berjubah putih itu mendekat dalam waktu hampir bersamaan. Matanya berurai air mata saat dia mengulurkan tangannya yang berselimut cahaya putih. Dan saat itu juga aku mengulurkan tanganku ke arah dahi sang wanita yang mengerang dengan hebat.
Selanjutnya aku sudah berada di luar rumah. Lelaki yang tadi sedang duduk di beranda kini ditemui oleh salah seorang wanita di dalam rumah. Aku hanya melihat dari jauh saat bayi yang digendong oleh wanita itu diserahkan. Disertai sebuah ucapan dari bibir si wanita penggendong bayi, lelaki itu lalu bersimpung dengan kesedihan yang amat sangat. Tanpa kusadari wanita berjubah putih tadi sudah ada disebelahku. Dengan air mata membasahi matanya, ia mencoba menyentuhku namun aku berlalu meninggalkannya.
Tugasku sudah selesai. Dan kini aku mengerti kenapa dadaku terasa sesak malam ini. Aku tidak mau berdebat dengan takdir untuk masalah ini. Aku hanya menjalankan peranku dalam roda kehidupan. Dan aku yakin bahwa takdir tidak kejam. Karena pasti ada misteri lain yang dia siapkan bagi manusia dalam memilih jalan hidupnya.
gelap! dan aku meraba apa yg terjadi..
Comment by sAyabayu — January 14, 2009 @ 5:57 pm
what the maksud ???
Comment by Sic Sid — January 14, 2009 @ 8:37 pm
gue juga masih meraba. masih berharap ada (underlined this word) ‘kejutan’ di setiap part-nya. Konsep pencabut nyawa udah sering dimodifikasi dalam cerita2. masih meraba apakah “hitam” punya keunikan dalam melihat sosok pencabut nyawa, atau ada hal lainnya? masih meraba
Comment by rizalrenaldi — January 15, 2009 @ 5:27 pm
oke dech. Memang gw berfikir secara film yang panjang. Jadi gw lebih menampilkan adegan - adegan yang tidak di mengerti dulu. Kayak film Saw…selalu ada adegan kematian yang gak jelas di depan.
Comment by Sic Sid — January 16, 2009 @ 11:11 am