Lantai rumah telah ternoda oleh darah segar saat aku datang ke ruangan itu. Seorang pria yang terikat di kursi mengalami luka yang amat serius. Di depannya hadir seorang pria lagi, dengan rautwajah beringas menggenggam sebuah besi yang berlumuran darah. Untaian kata kebencian keluar dari mulut pria itu saat aku menunggu dengan jam kunoku di tangan. Memang sungguh menyakitkan sebuah kematian yang perlahan. Tapi aku tidak memperdulikan apa yang terjadi di depan mataku. Tugasku hanya mencabut dan memastikan seseorang telah terhapus dari buku kehidupan.
Pria berwajah bengis itu kembali mengayunkan besi itu ke tubuh korbannya. Dan kini tampak sang korban sudah tidak tahan lagi dengan siksaan yang diterimanya. Satu tebasan lagi telah siap diarahkan kearah pria yang terikat tersebut. Aku pun mulai melangkahkan kakiku menuju korbanku. Ketepatan waktu sudah menjadi bagian dari pekerjaanku. Aku pun membuka kaos tangan dan menepuk pundak korbanku. Di saat itu juga, sebuah peluru berdesing menembus tubuh sang pria. Tugasku sudah selesai. Aku melangkah keluar melewati kerumunan orang yang bergegas membebaskan pria yang terikat tadi. Bersimbah darah, pria gila yang menyiksa korbannya itu telah tewas.
Sebuah kejadian yang menakjubkan. Kadang yang kuat tidak selamanya menang. Tapi apa artinya menang dan kalah, saat semuanya dihadapkan dengan masalah hidup dan mati.
tetap gelap. tetap meraba. ntah, apa saya yang sakit mata.
Comment by sAyabayu — January 23, 2009 @ 7:54 pm