February 25, 2009

So Long My Friend

Filed under: Whatevah

Gw bukan apa - apa waktu pertama kali menyentuh jogja. Bahkan sebelum itu, aku merasa kalo aku bukan siapa - siapa. Hingga kau datang.

Kau bisa mengangkatku. Di balik tubuhmu yang besar, aku mencoba untuk berlindung. Namun tanpa sepengetahuanku, ternyata engkaulah yang berlindung di balik tubuh kecilku ini. Bersama dengan waktu, persahabatan kita berubah menjadi sebuah persaudaraan. Dan bersamanya juga telah terikat sebuah tali batin yang kuat. Mungkin kita jauh namun khabar itu datang padaku dengan hentakan yang kuat. Mengetuk bahkan mendobrak batinku, hingga air mata tak mampu kubendung. Kilas balik perjalanan kita terkupas dalam ingatanku. Saat itu aku baru menyadari kalau aku sangat merindukanmu. 

Selamat jalan kawanku……Thanks for the Strength you gave me……

(For My Best Friend, Leo Agung Yulian 1981 - 2009) 

October 31, 2008

I’m Back

Filed under: Whatevah

Finally Reunited….

Setelah lama ditinggal anak istri…sekarang gw udah bersatu lagi. Semangat baru, sikap baru, kegilaan yang lama…hehehehe. Udah lama banget ga ada berita yang tersiar tentang gw. Itu karena selama ini gue berada di dalam gua (gue dalam gua….get it). Well….ini postingan sebagai pembukaan. Tunggu aja berita - berita dan keisengan - keisengan gw selanjutnya. PEACE

April 4, 2008

Sick Sid

Filed under: Whatevah

It’s taking over me……IT’S TAKING OVER ME….. But….it’s not over yet….i got to fight it. Alone if i should. I Hate u…….I don’t need anyone of u anymore….. (Damn, it’s killing me) I’LL FIGHT………….AND I WILL WIN !!!!!!!!!!!!

March 1, 2008

The Great Fight

Filed under: Whatevah

. I HATE U………..I FUCKIN HATE U……AND I LOVE U SO MUCH.

February 25, 2008

Give Me a Break

Filed under: Whatevah

Hari ini……..

Kepala terasa dingin. Membuat tubuhku bergerak dengan ritme yang tak jelas. Entah kenapa, gejala yang aku kenal ini tiba - tiba muncul. Apakah aku harus menjawabnya ?

Kalau saja saat ini ada Jack atau Johnnie. Mereka pasti mengerti masalahku. Memberiku kehangatan yang dapat membakar naluriku kearah yang lebih dramatis. Aku pasti akan puas. Terduduk diam, lesu dan senang.

(GUY’S……MISS THAT STUPID MOMENTS)

February 20, 2008

Kisah Dari Malam Yang Sumpek

Filed under: Whatevah

Sudah sebulan setengah ranjang ini tak disinggahi cinta. Hanya aku, rasa lelah, dan hantu – hantu masa depan yang menyesakkan, hingga aku sering kembali terjaga. Bila hal itu sudah terjadi, menghisap sebatang rokok adalah sebuah kewajiban bagiku. Sambil menerawang kosong ke setiap sudut ruangan, membiarkan nikotin dan segala racun dari rokok yang kuhisap membiusku untuk kembali ke fase relax.

 Tak terasa sudah setengah jam berlalu. Asbak di sebelahku pun telah setengah penuh. Masih juga belum kutemukan alasan untuk tidur pulas. Bahkan ketakutanku kini bertambah dengan habisnya stok anti depresan batanganku. “Mau beli dimana, udah malem banget gini?”  tanyaku dalam hati.

 Akhirnya aku pun mulai mencari cara agar bisa tertidur kembali. Kurapikan ranjang reot ini, menepuk – nepuk bantalku dan tidak lupa, memasang lagu – lagu cinta dengan irama mengalun. Dengan menghela nafas dalam, aku pun mencoba memejamkan mata. Kunikmati setiap melodi dan lirik dari headphone di telinga, membiarkannya membawaku kealam mimpi.

 “Indahnya dunia ini bila penuh kedamaian, ” pikirku sambil berdendang bisu dalam benak.

 Semakin lama anganku terbawa jauh kealam baru dengan kenangan indah sebagai drama utamanya. Kunikmati perasaan itu hingga akhirnya…….

 SESAK…!!!!.

 “Kenapa jadi seperti ini?” keningku sedikit mengkerut dengan mata tetap terpejam.

 “Kenapa keindahan ini justru menyesakkanku?”

 “Rasa sesaknya dua kali lipat dari pikiranku tentang apa dan kapan aku akan menjadi.”

 “Lepaskan keindahan ini !!”

 Akupun kembali terjaga. Namun kini dengan nafas sedikit terengah karena sumpek yang memenuhi dadaku. Kumatikan musik yang seharusnya membuatku terlelap dan tanganku tanpa sadar menyambar bungkus rokok yang berada tidak jauh dari tempat tidurku.

 "HABIS…??? Damn !!!”, teriakku dengan sunyi.

 Butiran keringat mulai keluar dari balik pori – pori. Rasa panik ini membuatku berfikir lebih keras akan solusi insomniaku. Kulirik kembali asbak yang tadi telah kusingkirkan. Kuteliti setiap puntung yang bertumpuk hingga kutemukan satu yang lumayan panjang. Hanya untuk 4 sampai 5 kali hisapan, tapi itu lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Pendek puntung tersebut membuat wajahku terasa panas ketika aku menyulutnya. Kunikmati setiap hembusan dengan hati – hati sambil berfikir,

 “ Bila puntung ini habis, lalu apa ??? “

  “Damn…!!!”

Menjadi Harapan

Filed under: Whatevah

It’s a great day. Beberapa bulan setelah aku lulus.

Kini aku dikembalikan pada realita bahwa manusia harus selalu menghadapi masalah.

Aku baru saja pulang dari kampus yang kini sudah tidak lagi menjadikan aku salah satu masalahnya. Ya….aku sudah tidak menjadi beban lagi bagi mereka. Tapi harapan. Mereka menaruh harapan besar pada diriku untuk mengharumkan almamater. Berbekal ilmu yang mereka berikan, aku harus mampu menunjukan bahwa mereka berhasil mencetak lulusan yang berguna bagi masyarakat. Seorang Harapan Bangsa.

Kini aku telah kembali pada keluarga yang telah membesarkanku. Rasa bangga mereka simpan atas nama baruku, foto yang mencitrakan kesuksesan dan hilangnya tanggungan akan biaya pendidikan formal atas diriku.  Sebagai anak tertua yang harus meneruskan kesuksesan jerih payah orang tuaku, lagi – lagi aku harus menjadi harapan. Aku pun kembali diarahkan seperti saat aku kecil dulu. Langkah yang harus aku lakukan demi mencapai cita – citaku dan bagaimana menghadapi dunia. Pembicaraan kami sangat demokratis dan diplomatis. Hanya saja, masih banyak kesalahanku di mata mereka karena pola pikirku yang berbeda. Tapi….namanya juga orang tua, mereka pasti menginginkan dan tahu yang terbaik buat anaknya.

Tak terasa, waktu sudah sangat malam. Waktunya bagi anak dan istriku yang jauh di bawah atap lain tidur. Sebelum terlelap, kusempatkan diriku menelfon mereka, sekedar untuk mengucapkan selamat tidur sebagai salah satu bentuk kecintaanku kepada mereka. Setelah menunggu nada dering berhenti bernyanyi, aku pun berbicara pada istriku. Sangat romantis saat ia menyatakan keinginannya untuk sebuah keluarga yang harmonis dengan rumah sendiri, beberapa peralatan rumah tangga dan sekolah yang terbaik untuk anak. Aku menyadari bahwa mereka sangat menaruh harapan pada diriku sebagai seorang kepala keluarga. Aku pun mengerti. Bagiku itu sudahlah sebuah keharusan untuk memberikan yang terbaik bagi keluargaku.

Setelah selesai meluapkan rasa rinduku melalui telepon seluler, aku kembali duduk terdiam. Penat…lelah…dan kantuk terasa di setiap sendi tubuhku. Waktunya istirahat. Dan sebelum aku memejamkan mata dan memanjakan keinginan tubuhku, aku pun berkata lantang di dalam hati.

 ” AKU BENCI MENJADI HARAPAN ”

Di Kereta Malam

Filed under: Whatevah

Akhirnya……ke Jakarta juga. Berbekal uang 200 ribu rupiah, entah untuk apa.

 Tujuannya…..tidak jelas. Intinya aku akan menyambung kehidupan yang entah bagaimana harus tetap bernafas. Ini kewajiban, tanggung jawab, kedewasaan.

 Ini sedikit nekat. Hahahahahaha………….