January 16, 2009
Lantai rumah telah ternoda oleh darah segar saat aku datang ke ruangan itu. Seorang pria yang terikat di kursi mengalami luka yang amat serius. Di depannya hadir seorang pria lagi, dengan rautwajah beringas menggenggam sebuah besi yang berlumuran darah. Untaian kata kebencian keluar dari mulut pria itu saat aku menunggu dengan jam kunoku di tangan. Memang sungguh menyakitkan sebuah kematian yang perlahan. Tapi aku tidak memperdulikan apa yang terjadi di depan mataku. Tugasku hanya mencabut dan memastikan seseorang telah terhapus dari buku kehidupan.
Pria berwajah bengis itu kembali mengayunkan besi itu ke tubuh korbannya. Dan kini tampak sang korban sudah tidak tahan lagi dengan siksaan yang diterimanya. Satu tebasan lagi telah siap diarahkan kearah pria yang terikat tersebut. Aku pun mulai melangkahkan kakiku menuju korbanku. Ketepatan waktu sudah menjadi bagian dari pekerjaanku. Aku pun membuka kaos tangan dan menepuk pundak korbanku. Di saat itu juga, sebuah peluru berdesing menembus tubuh sang pria. Tugasku sudah selesai. Aku melangkah keluar melewati kerumunan orang yang bergegas membebaskan pria yang terikat tadi. Bersimbah darah, pria gila yang menyiksa korbannya itu telah tewas.
Sebuah kejadian yang menakjubkan. Kadang yang kuat tidak selamanya menang. Tapi apa artinya menang dan kalah, saat semuanya dihadapkan dengan masalah hidup dan mati.
January 13, 2009
Malam ini tidak terasa seperti malam – malam yang lain. Ada suatu hal yang membuat dadaku terasa sesak entah kenapa. Namun aku mencoba mengesampingkan perasaan ini dan terus berjalan menuju tempat korbanku. Di sebuah rumah sederhana yang jauh dari perkotaan, seorang lelaki tengah duduk dengan kecemasan di berandanya. Aku mengabaikan dirinya yang tampak sesekali memejamkan matanya dan berharap. Dan kini aku pun sudah berada di dalam sebuah kamar di rumah kecil itu.
Tampak seorang wanita berpeluh yang dikelilingi beberapa wanita lagi yang lebih tua dari dia. Diantara mereka ada seorang wanita berjubah putih yang aku kenal. Dia menatapku dengan wajah sedih seolah menanyakan mengapa aku hadir di sini. Namun aku mengalihkan pandanganku menunjukkan keinginan diriku yang tidak ingin memulai pembicaraan dengannya. Aku pun mengeluarkan sebuah kalung dengan sebuah jam kuno dari saku saat wanita berpeluh tadi mulai mengerang. Dengan wajah dingin aku memperhatikan jarum terkecil yang terus melaju di jam kuno itu. Setelah itu aku dan wanita berjubah putih itu mendekat dalam waktu hampir bersamaan. Matanya berurai air mata saat dia mengulurkan tangannya yang berselimut cahaya putih. Dan saat itu juga aku mengulurkan tanganku ke arah dahi sang wanita yang mengerang dengan hebat.
Selanjutnya aku sudah berada di luar rumah. Lelaki yang tadi sedang duduk di beranda kini ditemui oleh salah seorang wanita di dalam rumah. Aku hanya melihat dari jauh saat bayi yang digendong oleh wanita itu diserahkan. Disertai sebuah ucapan dari bibir si wanita penggendong bayi, lelaki itu lalu bersimpung dengan kesedihan yang amat sangat. Tanpa kusadari wanita berjubah putih tadi sudah ada disebelahku. Dengan air mata membasahi matanya, ia mencoba menyentuhku namun aku berlalu meninggalkannya.
Tugasku sudah selesai. Dan kini aku mengerti kenapa dadaku terasa sesak malam ini. Aku tidak mau berdebat dengan takdir untuk masalah ini. Aku hanya menjalankan peranku dalam roda kehidupan. Dan aku yakin bahwa takdir tidak kejam. Karena pasti ada misteri lain yang dia siapkan bagi manusia dalam memilih jalan hidupnya.
Kisahku sudah ada bahkan sebelum manusia pertama dilahirkan.
Dikenal dengan berbagai nama di berbagai tempat.
Menorehkan duka kepada mereka dengan takdirku.
Karena aku ada untuk meniadakan.
Aku adalah sang pencabut nyawa.
Tapi kalian dapat memanggilku HITAM.
Dan ini adalah diaryku.
”HITAM”
Created by : L. Ibenzani
Written by : Hiram Sidharta (that’s my real name)