Rizki seorang mahasiswa tanggung yang tinggal di sebuah kost campur. Diantara beberapa wanita yang tinggal di kost itu, seorang menarik perhatiannya. Mischa namanya, gadis manis yang tampak lugu namun bersemangat. Diantara mereka timbul cinta yang tak terungkap. Hanya bahasa tubuh dan perhatian yang bagai sepasang kekasih. Namun tak pernah memadu cinta. Hingga suatu saat….
Hujan rintik sore itu mencairkan semua suasana hati tiap insan yang berlindung dibawahnya. Di samping itu, tampaknya sang dewi cinta sedang membidik panahnya pada sepasang kekasih tanpa sentuhan dalam. "Rizki", panggil Mischa yang tanpa diketahui telah berada disamping Rizki. Mencoba menurunkan detak jantungnya, Rizki menjawab santai,
"Eh Mischa" "Sibuk nggak ?" , tanya Mischa pada Rizki. "Nggak emang kenapa ?" , tanpa jeda, jawaban Rizki langsung dipotong oleh Mischa. "Anterin aku yuk !" "Mau nggak ?" , tambah Mischa dengan wajah lugu malu dan memelas.
"AYo, kemana ? " jawab dan tanya Rizki.
"Aku lapar, jadi pengen masak indomie. Tapi indomienya abis" , jelas Mischa. "Anterin aku pake payung ke warung depan yuk ! " , tawar Mischa sekali lagi.
Karena mereka memang saling mengerti keadaan hati mereka masing - masing, tanpa basa basi Rizki mengiyakan dan lalu menuju keluar. Sambil membuka payung, Rizki memberi anggukan mengajak kepada Mischa yang berada di belakangnya. Diantara hujan yang cukup lebat saat itu, mereka berdempet menghindar basah sehingga tampak sangat mesra. Keadaan itu bertahan hingga mereka sampai di warung depan yang ternyata tutup.
"Yah, gimana dong ?" , tanya Mischa yang memang saat itu ngidam makan indomie di saat hujan.
"Hehehehehehehe" , balas Rizki. "Sebenernya aku masih punya indomie 2 lagi, tapi yang rasa soto " , jelas Rizki.
"Ih…….", jawab Mischa sambil mencubit Rizki gemas. "Kenapa ga bilang dari tadi" "Tapi memang aku yang ngajak sich" , mengoreksi emosinya sendiri dengan senyum yang manis.
Mereka berdua pun berlanjut pulang kembali menuju kost seperti saat berangkat, namun dengan rasa bergetar aneh di dalam dada mereka masing - masing.
"Tapi ada untungnya juga ya", sela Mischa ditengah jarak kecil sampai ke kost. "Cowok dan cewek berduaan di bawah payung " , sambil memberi gesture manja.
"Kenapa memang?" , balas Rizki dengan tampang kalem.
Mischa mencoba menarik pandangan Rizki dengan muka masam.
"Romantis bego…." , jelas Mischa kepada Rizki.
Mereka berdua berhenti sejenak dibawah payung dan derasnya hujan. Pandangan mereka kini berbeda. Getar yang tadi timbul kini sudah bagai gempa yang bergejolak di dalam jiwa mereka.
"Bagi kamu ini romantis banget ?" , tanya Rizki dengan tampan. "Iya….", balas Mischa sok marah. "Emang bagi kamu, apa lagi yang lebih romantis dari ini ?"
Tiba - tiba Rizki membuang payung yang melindungi mereka berdua. Kini mereka basah kuyup membuat Mischa bingung. Terlampau bingungnya, hingga Mischa hanya terdiam dan memandang mata Rizki dengan tajam. Waktu yang hanya beberapa nano detik itu terasa lama bagai menunggu tungku memanas.
"Bagi aku…." , lanjut Rizki dibawah guyuran hujan bersama Mischa. "Hal yang romantis banget adalah saat sepasang kekasih bercumbu dibawah guyuran hujan"
Mereka berdua terdiam sejenak. Namun busur panah cinta yang kini telah melesat pun akhirnya menancap. Di bawah guyuran hujan, Mischa dan Rizki bercumbu indah. Bagai sebuah adegan di dalam film, dunia ini tampak bagai milik mereka. Seorang aktor dan aktris dalam sebuah adegan cinta. Pertautan bibir mereka dibawah guyuran hujan menjadikan berkah bagi keagungan cinta.
Dan tiba - tiba mereka berhenti. Kembali seperti biasa, menyisakan degup jantung kencang dan kegugupan yang tampak naif.
"Mmmmm……yuk" , ajak Rizki masuk.
Tanpa balasan dari Mischa mereka pun masuk ke dalam kost dan kelanjutannya saya serahkan kepada anda.
(Cerita ini kupersembahkan kepada seseorang yang terlalu sempurna untuk kumiliki)
Indah tinggal di sebuah desa kecil. Ibunya telah meninggal dan Ayahnya adalah seorang petani. Memang meninggalnya ibu bukanlah salah dia atau ayahnya. Ibu meninggal karena penyakit yang dideritanya tak dapat diatasi secara biaya. Ia memang tidak ingat kejadiannya karena saat itu Indah masih bayi. Satu - satunya pengingat akan kasih sayang ibunya adalah liontin yang selalu ia bawa kemana - mana . Di dalamnya tersimpan dua buah foto wajah orang tua Indah. Ayahnya di sisi kiri dan ibu di bagian kanannya. Liontin ini juga sudah seperti sebuah jimat yang membuatnya tetap tegar menghadapi masalah seperti kemarau panjang yang sedang melanda desa tersebut. Di saat seperti ini, warga desa banyak yang berdoa dan melakukan ritual untuk memohon hujan kepada Yang Kuasa.
Pada suatu hari, Indah bertanya kepada Ayahnya tentang dimana ibunya kini berada. Satu - satunya petunjuk dari Ayahnya adalah bahwa ibunya kini ada di balik pelangi. Jawaban itu menjadi cukup relevan baginya yang masih kecil. Namun, bagaimana mencari pelangi di musim kemarau ini ? Hal inilah yang menjadi awal dari petualangan Indah. Hanya dengan berbekal liontin milik ibunya ia pun berjalan mencari pelangi dimana ibunya berada.
Dimulai dari pekarangan rumahnya, ia berjalan ke arah bukit tempat dimana ia biasa bermain. Di sana tumbuh sebuah pohon besar diantara padang rumput yang kini berwarna kecoklatan. Sesampainya di bawah pohon tersebut, ia terduduk dan memandang ke arah langit dimana terik matahari menyilaukan matanya. Tanpa disadarinya, seorang kakek tua sudah berada di sebelahnya dan bertanya apa yang sedang dilakukan seorang gadis kecil di tempat ini sendirian. Ia pun menjawab bahwa sedang mencari ibunya di ujung pelangi. Lelaki tua itu pun tertawa kecil karena keluguan gadis kecil itu. Ia bertanya balik tentang bagaimana mencari pelangi di musim kemarau seperti ini. Indah pun mengggaruk kepalanya setengah kebingungan. Di saat itu juga, lelaki tua tadi memberi saran padanya untuk menemui dewi air yang menghuni sungai dekat hutan karena mungkin sang dewi dapat membantunya. Indah pun mulai mengikuti saran kakek tua yang tidak dikenalnya itu dan berjalan menuruni bukit menuju tempat yang ditunjuk.
Sesampainya di sana ia bingung karena tidak menemui siapa - siapa, apalagi sang dewi air. Sambil menunggu ia memainkan tangannya di sungai sambil berjongkok. Kembali tanpa ia sadari, seorang wanita cantik telah berdiri disampingnya dengan cahaya indah yang menyegarkan. Sosok tadi yang ternyata adalah sang dewi air menanyakan alasan kemurungan gadis kecil itu. Indah pun menerangkan alasan kenapa ia bisa sampai disitu dan sang dewi pun mengerti. Sang dewi menengadahkan tangannya dan tiba - tiba sebuah gelas bening besar yang menyerupai cawan itu muncul. Di dalamnya terdapat air terjernih yang pernah Indah lihat. Gelas itu pun diberikan oleh sang dewi kepada Indah dengan pesan untuk mengantarkannya kepada dewa langit yang berada di atas bukit tempat ia berada tadi. Indah pun melaksanakan perintah sang dewi dan segera kembali kesana. Sesampainya di sana, ia sudah tidak menemukan kakek tua tadi. Dengan sangat hati - hati Indah melewati padang rumput untuk menuju pohon besar yang ada di tengahnya. Namun tanpa disangka langkah kecilnya terganjal oleh sebuah batu yang kebetulan berada di balik rerumputan. Gelas tersebut terlempar jatuh dan pecah. Indah menjadi sedih dan bingung karena kini ia tidak akan bisa melihat pelangi. Ia pun duduk di bawah pohon sambil menangis. Kini harapannya untuk mengejar pelangi dan bertemu ibunya telah musnah.
Tanpa disadari, air matanya menetes dan jatuh ke bumi. Di saat itu juga, kakek tua tadi muncul kembali. Dia pun berkata akan mengabulkan keinginan Indah dengan pesan bahwa tidak ada air semurni air mata dari harapan seorang anak. Setelah perkataan itu, tiba - tiba hujan pun turun. Masyarakat di desa berbahagia karena kini sawahnya bisa terairi lagi. Mereka merasa puas dengan permohonan dan ritual yang mereka panjatkan kepada sang dewa.
Sementara itu, dibawah pohon Indah masih menunggu hujan dan berharap pelangi itu akan muncul. Dan hujan pun berhenti. Indah memberanikan diri untuk keluar dari lindungan pohon tersebut dan mencari pelangi yang telah ditunggunya namun ia tidak menemukannya. Tanpa disadari ternyata ia berada di bawah pelangi itu. Namun karena begitu besarnya maka ia tidak dapat melihatnya. Untung saja ada kakek tua tadi yang ternyata sang dewa langit. Ia bertanya kembali kepada Indah kenapa ia masih tampak bersedih. Indah pun menerangkan kepada sang dewa betapa ia ingin bertemu ibunya. Sang dewa pun menunjuk ke arah sebuah kubangan air dan Indah melihat apa yang ada di kubangan tersebut. Ternyata hanya ada wajah dirinya sendiri. Di belakangnya sang dewa berkata bahwa ia tidak perlu mencari ibunya jauh - jauh karena sejak ia lahir, ibunya sudah menjadi bagian dari dirinya. Indah pun mengerti karena dia ingat wajah ibunya yang memang mirip dengan dirinya. Ia kini cukup senang. Sambil masih melihat ke arah air ia lalu bertanya dimana pelangi yang dicarinya namun sang dewa langit telah tiada. Ia pun menjadi sedikit bingung.
Akhirnya Indah pun kembali ke rumahnya. Tanpa disadari, dialah pelangi itu. Sebuah keindahan dibalik kesedihan.
(Cerita ini kupersembahkan kepada (alm) ibuku yang telah memberikan banyak cinta dan cerita kepadaku…..hiks….i miss u so much)
Nah….ini dia (kayak poskota). Ini film pendek yang pernah Unit Kegiatan Mahasiswa gw SARAF (Satuan Rakyat Film) pernah buat. Judulnya “Menunggu Jodoh”. Merupakan sebuah adaptasi dari cerpen oleh The Great Tante Okke “SepatuMerah”. Thanks buat semua yang telah berpartisipasi dan mendukung.
Soal cerita dalam film pendek ini……just cekedot !!!
Kepala terasa dingin. Membuat tubuhku bergerak dengan ritme yang tak jelas. Entah kenapa, gejala yang aku kenal ini tiba - tiba muncul. Apakah aku harus menjawabnya ?
Kalau saja saat ini ada Jack atau Johnnie. Mereka pasti mengerti masalahku. Memberiku kehangatan yang dapat membakar naluriku kearah yang lebih dramatis. Aku pasti akan puas. Terduduk diam, lesu dan senang.
Cerita tentang tiga orang yang sedang bercerita tentang cerita apa yang akan di ceritakan dalam video mereka. Intinya, ini video yang gw ama sodara gw (Mamang and the Kacrut) bikin. Enjoy !!! (lebih bagus nontonnya waktu lg ogeb)
Sudah sebulan setengah ranjang ini tak disinggahi cinta. Hanya aku, rasa lelah, dan hantu – hantu masa depan yang menyesakkan, hingga aku sering kembali terjaga. Bila hal itu sudah terjadi, menghisap sebatang rokok adalah sebuah kewajiban bagiku. Sambil menerawang kosong ke setiap sudut ruangan, membiarkan nikotin dan segala racun dari rokok yang kuhisap membiusku untuk kembali ke faserelax.
Tak terasa sudah setengah jam berlalu. Asbak di sebelahku pun telah setengah penuh. Masih juga belum kutemukan alasan untuk tidur pulas. Bahkan ketakutanku kini bertambah dengan habisnya stok anti depresan batanganku. “Mau beli dimana, udah malem banget gini?” tanyaku dalam hati.
Akhirnya aku pun mulai mencari cara agar bisa tertidur kembali. Kurapikan ranjang reot ini, menepuk – nepuk bantalku dan tidak lupa, memasang lagu – lagu cinta dengan irama mengalun. Dengan menghela nafas dalam, aku pun mencoba memejamkan mata. Kunikmati setiap melodi dan lirik dari headphone di telinga, membiarkannya membawaku kealam mimpi.
“Indahnya dunia ini bila penuh kedamaian, ” pikirku sambil berdendang bisu dalam benak.
Semakin lama anganku terbawa jauh kealam baru dengan kenangan indah sebagai drama utamanya. Kunikmati perasaan itu hingga akhirnya…….
SESAK…!!!!.
“Kenapa jadi seperti ini?” keningku sedikit mengkerut dengan mata tetap terpejam.
“Kenapa keindahan ini justru menyesakkanku?”
“Rasa sesaknya dua kali lipat dari pikiranku tentang apa dan kapan aku akan menjadi.”
“Lepaskan keindahan ini !!”
Akupun kembali terjaga. Namun kini dengan nafas sedikit terengah karena sumpek yang memenuhi dadaku. Kumatikan musik yang seharusnya membuatku terlelap dan tanganku tanpa sadar menyambar bungkus rokok yang berada tidak jauh dari tempat tidurku.
"HABIS…??? Damn !!!”, teriakku dengan sunyi.
Butiran keringat mulai keluar dari balik pori – pori. Rasa panik ini membuatku berfikir lebih keras akan solusi insomniaku. Kulirik kembali asbak yang tadi telah kusingkirkan. Kuteliti setiap puntung yang bertumpuk hingga kutemukan satu yang lumayan panjang. Hanya untuk 4 sampai 5 kali hisapan, tapi itu lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Pendek puntung tersebut membuat wajahku terasa panas ketika aku menyulutnya. Kunikmati setiap hembusan dengan hati – hati sambil berfikir,
It’s a great day. Beberapa bulan setelah aku lulus.
Kini aku dikembalikan pada realita bahwa manusia harus selalu menghadapi masalah.
Aku baru saja pulang dari kampus yang kini sudah tidak lagi menjadikan aku salah satu masalahnya. Ya….aku sudah tidak menjadi beban lagi bagi mereka. Tapi harapan. Mereka menaruh harapan besar pada diriku untuk mengharumkan almamater. Berbekal ilmu yang mereka berikan, aku harus mampu menunjukan bahwa mereka berhasil mencetak lulusan yang berguna bagi masyarakat. Seorang Harapan Bangsa.
Kini aku telah kembali pada keluarga yang telah membesarkanku. Rasa bangga mereka simpan atas nama baruku, foto yang mencitrakan kesuksesan dan hilangnya tanggungan akan biaya pendidikan formal atas diriku. Sebagai anak tertua yang harus meneruskan kesuksesan jerih payah orang tuaku, lagi – lagi aku harus menjadi harapan. Aku pun kembali diarahkan seperti saat aku kecil dulu. Langkah yang harus aku lakukan demi mencapai cita – citaku dan bagaimana menghadapi dunia. Pembicaraan kami sangat demokratis dan diplomatis. Hanya saja, masih banyak kesalahanku di mata mereka karena pola pikirku yang berbeda. Tapi….namanya juga orang tua, mereka pasti menginginkan dan tahu yang terbaik buat anaknya.
Tak terasa, waktu sudah sangat malam. Waktunya bagi anak dan istriku yang jauh di bawah atap lain tidur. Sebelum terlelap, kusempatkan diriku menelfon mereka, sekedar untuk mengucapkan selamat tidur sebagai salah satu bentuk kecintaanku kepada mereka. Setelah menunggu nada dering berhenti bernyanyi, aku pun berbicara pada istriku. Sangat romantis saat ia menyatakan keinginannya untuk sebuah keluarga yang harmonis dengan rumah sendiri, beberapa peralatan rumah tangga dan sekolah yang terbaik untuk anak. Aku menyadari bahwa mereka sangat menaruh harapan pada diriku sebagai seorang kepala keluarga. Aku pun mengerti. Bagiku itu sudahlah sebuah keharusan untuk memberikan yang terbaik bagi keluargaku.
Setelah selesai meluapkan rasa rinduku melalui telepon seluler, aku kembali duduk terdiam. Penat…lelah…dan kantuk terasa di setiap sendi tubuhku. Waktunya istirahat. Dan sebelum aku memejamkan mata dan memanjakan keinginan tubuhku, aku pun berkata lantang di dalam hati.